-->
    |

Protes Menentang Kebrutalan Polisi Kolombia, 7 Tewas

Para demonstran bentrok dengan polisi di distrik Villa Luz, Bogota, Kolombia Rabu malam (9/9). (foto: VOA)
Kapuasrayatoday.com - Tujuh warga sipil tewas di ibukota Kolombia, Bogota, dan kota di dekatnya, Soacha, setelah demonstrasi menentang kebrutalan polisi berubah menjadi kekerasan Rabu malam. Demonstrasi dipicu oleh video yang menjadi viral. Dalam video itu tampak seorang laki-laki berulang kali disetrum dengan senjata kejut oleh polisi. Laki-laki itu meninggal tidak lama kemudian.

Hampir 100 petugas polisi dan 55 warga sipil terluka dalam demonstrasi itu. Sekitar 70 demonstran, sebagian besar di ibu kota, ditangkap.

Demonstran turun ke jalan-jalan Rabu (9/9) malam untuk memrotes kematian pengacara berusia 46 tahun baru-baru ini, Javier Ordonez. Video dari ponsel teman Ordonez menunjukkan, petugas meringkus ayah dua anak itu dan menyengatnya dengan senjata kejut secara berlebihan, sementara terdengar dia memohon, "Tolong, jangan lagi."

Pejabat penegak hukum mengatakan, pada Rabu dini hari, petugas melihat Ordonez sedang minum minuman beralkohol di jalan bersama teman-temannya. Itu adalah pelanggaran aturan menjaga jarak fisik yang diterapkan untuk membantu meredam penyebaran virus corona yang sangat menular.

Setelah ditangkap, Ordonez dibawa ke kantor polisi. Teman dan keluarga menuduh polisi kemudian menyiksa Ordonez. Kematiannya di rumah sakit, memicu kemarahan di kalangan warga sipil atas penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh penegak hukum.

Ratusan demonstran berkumpul di luar kantor polisi tempat Ordonez ditahan. Sebagian demonstran menggunakan tong sampah, batu, dan tongkat untuk mengobrak-abrik jendela gedung itu. Menurut polisi nasional, dua kantor polisi dibakar dan tiga lainnya diserang di berbagai tempat di Bogota. Sejumlah kendaraan umum juga dirusak.

Kedua petugas yang terlibat telah diskors dari tugas mereka sementara menunggu penyelidikan, kata pemerintah. Otopsi juga ditangguhkan. (VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini