-->
    |

Menerapkan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional, Mungkinkah?

Sekdaprov Jawa Timur memakaikan face shield kepada para pedagang dan pengunjung Pasar Oro-oro Dowo Malang. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com
- Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil survei yang mencatat 573 pedagang terinfeksi virus corona. Ini tidak lepas dari sejumlah pasar yang menjadi klaster baru perebakan virus corona. Penularan terjadi karena minimnya penerapan protokol kesehatan, karena minimnya pemahaman dan pengetahuan pedagang terhadap bahaya virus corona.

Kementerian Perdagangan mencatat ada lebih dari 13 ribu pasar tradisional di seluruh Indonesia, yang menampung lebih dari 12 juta pedagang. Kampanye memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, menjadi cara untuk mencegah penularan virus corona.

Dalam diskusi daring, Jumat (2/10), bertema “Tetap Pakai Masker di Pasar Tradisional,” Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), dan Direktur Kampanye Gerakan Pakai Masker, Joko Setiyanto, mengatakan pedagang mengaku tidak memakai masker karena merasa tidak nyaman ketika melakukan aktivitasnya.

Selain itu, katanya, kebanyakan pasar tradisional tidak didesain menghadapi pandemi penyakit menular seperti virus corona, yang memastikan ada jarak antar pedagang, serta sirkulasi udara yang kurang terbuka di sejumlah tempat.

“Desain pasar memang tidak didesain untuk menghadapi pandemi ini. Desain koridornya, rata-rata dua meter, ada yang satu meter, ada yang satu setengah meter, itu koridornya. Jarak antar pedagang juga, yang di loss tidak ada jaraknya, satu dan lainnya sebelahan begitu, apalagi kan tentang ventilasi. Jadi, memang desaian itu tidak mengantisipasi ini.”

Peneliti psikologi sosial di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dicky Pelupessy, mengungkapkan hasil studinya yang menyebut sebanyak 90 persen pedagang di salah satu pasar di Jakarta telah memakai masker, namun hanya 53 persen yang memakai masker dengan benar.

“Mereka merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi, bertransaksi dengan pembeli atau calon pembeli, jadi itu yang mereka rasakan, tidak nyaman sehingga kemudian mereka merasa masker itu menyulitkan dalam kegiatan mereka di pasar.”

Alasan belum terbiasa memakai masker, kata Dicky, dipengaruhi pula oleh belum tertanamnya kebiasaan itu di kalangan pedagang pasar. Selain itu, perlu ada sosialiasi terus menerus, penegakan aturan bagi yang tidak memakai masker, dan kerjasama yang melibatkan paguyuban pedagangan pasar. Upaya dan kerja sama itu, diyakini akan menghadirkan norma baru.

“Keputusan pedagang menggunakan masker atau tidak, itu menunggu apa yang dilakukan oleh pedagang yang lain. Jadi kalau dia lihat pedagang di depannya pakai masker, ya dia mulai merasa, oh saya harus pakai masker. Begitu juga di samping kanan kirinya," katanya.

"Nah artinya apa, ketika kemudian kita bisa lihat, misalnya kita bayangkan semua memakai masker, kanan kiri pake masker, depan pakai masker, maka orang akan cenderung mau pakai masker. Nah ini kan kemudian saya bicara norma," lanjut Dicky.

Joko Setiyanto menegaskan bahwa pelibatan semua pihak dari kalangan pedagang untuk memastikan protokol kesehatan dijalankan, menjadi kunci agar pasar tradisional tidak sampai menjadi klaster baru penyebaran virus corona.

“Protokol untuk Covid-19 kita lakukan semaksimal mungkin. Jangan tutup pasar karena apa, rentetannya luas, panjang sekali. Ini dari daerah penghasil kan tidak bisa ditahan, katakan sore, malam ini panen, kan tidak bisa ditahan sampai seminggu," kata Joko.

"Itu pola tanam jelas, hubungannya dengan petani luar biasa. Jadi bukan hanya di pasar, tetapi di daerah penghasil itu lebih banyak dari pada di pasar," tambahnya. (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini