-->
    |

Warga Abidjan Khawatir Aksi Kekerasan 2010 Terulang

Para petugas Komisi Pemilihan Umum memeriksa surat suara di sebuah tempat pemungutan suara di Abidjan, Sabtu, 31 Oktober 2020. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com
- Warga Pantai Gading, Minggu (1/11), menyampaikan kekhawatiran mereka akan kemungkinan terjadinya aksi kekerasan pasca pemilu, yang pernah terjadi di negara itu hampir sepuluh tahun lalu.

Di jalan-jalan Kota Abidjan, ada ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi dalam beberapa hari mendatang dan juga soal apakah pengumuman hasil pemilu yang parsial sekalipun akan memicu kerusuhan.

Moussa Doumbia, laki-laki berusia 67 tahun, mengatakan kepada Associated Press bahwa warga di Abobo yang mendukung petahana Alassane Ouattara ingin menghindari konflik berdarah dalam pemilu sebelumnya.

Kebuntuan hasil pemilu pada 2010 lmemicu pertempuran selama berbulan-bulan yang menewaskan lebih dari 3.000 orang, setelah presiden ketika itu – Laurent Gbagbo – menolak mengakui kekalahannya dari Alassane Ouattara, pemenang pemilu yang diakui masyarakat internasional.

Ouattara juga mengikuti pemilu saat ini untuk meraih masa jabatan ketiga, hal yang oleh lawan-lawan politiknya dinilai ilegal. Ouattara menilai dua masa jabatan sebelumnya tidak dapat dihitung sebagai masa jabatan yang sah karena referendum konstitusional yang disetujui pada 2016.

Ketegangan politik karena pencalonan Ouattara telah kembali membuka luka lama di negara yang sebelumnya juga dilanda kebuntuan politik, di mana para kritikus mengeluhkan kegagalan pemerintahan Ouattara menciptakan rekonsiliasi di negara itu.

Sejumlah kritikus mengatakan Quattara sudah berhasil menjamin kemenangan dirinya sendiri karena 40 dari 44 calon yang berusaha mencalonkan diri telah didiskualifikasi, termasuk Guillaume Soro dan Laurent Gbagbo. Dua dari tiga lawan yang tersisa telah memboikot pemilu pada Sabtu (7/11) dan meminta para pendukung mereka untuk tinggal di rumah saja. (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini