-->
    |

Pasangan Dengan Jargon "Mandau Mengkilat" Semakin Menjadi Idola Kaum Milenial Di Sintang


Sintang
, Kapuasrayatoday.com  - 

Pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Sintang Yohanes Rumpak - Syarifuddin yang dijuluki dengan jargon "MANDAU MENGKILAT" tak sedikit pihak yang meremehkan pasangan ini, yang dianggap masih muda dan belum faham berpolitik.

Banyak pihak yaang berangapan bahwa pasangan "Mandau Mengkilat" tidak mampu dalam memimpin kabupaten Sintang, isu tersebut sengaja di hembuskan memalui media sosial. Berkat kesabaran, serta kesungguhan  yang tiada henti menyapa masyarakat, pasangan Yohanes Rumpak -  Syarifuddin tersebut kini malah semakin kencang dan semakin diidolakan oleh masyarakat dan kaum millenial.

Tak sedikit pihak yang menyatakan siap memenangkan Mandau Mengkilat  pada 9 Desember 2020 mendatang di Pilkada Sintang, sehingga dukunganpun terus mengalir deras untuk pasangan Yohanes Rumpak dan Syarifuddin.

Tak heran, jika masyarakat kabupaten Sintang kini lebih dekat dan siap memperjuangkan kemenangan mereka. Karena, sosok muda dan penuh semangat ini sangat di idamkan untuk memimpin kabupaten Sintang kedepan.

Jargon "Mandau Mengkilat" itupun kian jelas dan bersuara, karena semangat kemenangan didalam kebersamaan pun siap mendobrak perubahan untuk Sintang yang lebih baik kedepannya. 

Hampir semua kalangan di daerah ingin perubahan untuk menjawab tantangan yang harus dilakukan pengambil kebijakan agar lebih baik lagi. Keputusan dan tuntutan perubahan ini terus menggelora di kalangan masyarakat, dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan menjadikan masyarakat yang adil dan sejahtera serta pemerataan pembangunan.

Banyak sekali yang membully dan menghujat serta meremehkan kemampuan Paslon Bupati Sintang Yohanes Rumpak dan Syarifuddin ini, karena dianggap membuat program yang tidak masuk akal, misalnya akan mengubah lanting menjadi ikon baru di bidang pariwisata pinggiran Sungai dengan konsep modern, sehingga bisa mendobrak pertumbuhan ekonomi kerakyatan masyarakat pinggiran Sungai, maka  konsep ini akan menjadi lebih baik, jika masyarakat yang ingin berwisata kuliner dan sambil menikmati keindahan sungai.

Ide membangun 1000 lanting ini dianggap koyol oleh tim lawan, karena dianggap tidak masuk akal. Padahal ini sebuah solusi, karena sungai adalah jalur peradaban masyarakat Sintang. Tapi dalam konteks masyakarat modern saat ini, sungai harus difungsikan sebagai tempat pertumbuhan ekonomi baru, ini tawaran yang baik untuk menghidupkan pariwisata di kabupaten Sintang, juga akan menambah PAD daerah. Yang paling diuntungkan adalah masyarakat dengan buka lapangan kerja baru, sehingga mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. (nus)

Penulis.  Tim liputan

Editor.     Sudarno

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini