-->
    |

Jumlah Kasus Virus Corona di Dunia Lampaui 100 Juta

Para petugas pemakaman mengenakan APD saat memakamkan seorang pasien yang meninggal dunia karena Covid-19 di kompleks peakaman Batu Caves, Malaysia, 27 Januari 2021. (foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com
- Sementara negara-negara menghadapi kesulitan akses, pasokan dan distribusi vaksin virus corona, jumlah kasus virus corona terkonfirmasi di seluruh dunia melampaui 100 juta dengan lebih dari 2,1 juta kematian.

Dibutuhkan waktu sekitar 11 bulan untuk mencapai 50 juta kasus di seluruh dunia dan tiga bulan kemudian mencapai 100 juta kasus.

Lima negara telah mengalami lebih dari 100.000 kematian termasuk Inggris, yang melampaui angka itu pada hari Selasa (26/1).

Pejabat kesehatan masyarakat telah mendesak warga untuk melakukan langkah-langkah seperti mengenakan masker, menjaga jarak satu sama lain, dan menghindari pertemuan besar untuk menghentikan penyebaran virus. Berbagai negara telah memberlakukan berbagai tingkat lockdown di tengah-tengah lonjakan infeksi.

Peru mengumumkan penutupan wilayah ibu kota dan sembilan wilayah lainnya, Selasa malam, karena rumah sakit-rumah sakit kewalahan menghadapi lonjakan besar kasus virus corona.

Presiden Francisco Sagasti mengatakan toko-toko nonesensial akan tutup, perjalanan regional akan ditangguhkan, dan larangan penerbangan internasional dari Brasil dan Eropa akan diperpanjang hingga setidaknya 14 Februari.

Korea Selatan juga berupaya mengendalikan perebakan wabah terbaru. Seorang pejabat kesehatan mengatakan 297 kasus telah dilacak ke enam gereja dan sekolah yang dikelola oleh sebuah organisasi Kristen, yang telah diperintahkan untuk mengetes setiap orang di 32 dari 40 lokasinya di Korea Selatan.

Di Australia, pejabat kesehatan melaporkan kemajuan negara itu dengan tidak memiliki kasus infeksi COVID-19 baru selama 10 hari berturut-turut.

Sebagai tanggapan, pihak berwenang siap melonggarkan pembatasan terkait penggunaan masker, jumlah orang yang diperbolehkan berkumpul untuk pesta, perkawinan dan di tempat ibadah mulai hari Jumat.

“Keduanya berjalan bersamaan, Anda tidak dapat memiliki perekonomian terbuka kecuali jika Anda memastikan pengaturan kesehatan yang baik,” kata Perdana Menteri New South Wales Gladys Berejiklian, seraya mendesak warga untuk melakukan tes COVID-19 bahkan untuk “gejala paling ringan.”

Setelah sejumlah perusahaan berlomba-lomba untuk mengembangkan vaksin COVID-19, sekitar 56 negara telah mulai memvaksinasi warga mereka.

Namun dengan kebanyakan negara besar memesan dalam jumlah banyak, Organisasi Kesehatan Dunia dan lainnya telah memperingatkan tentang bahaya “nasionalisme vaksin” dengan mengabaikan orang-orang di negara lain.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengatakan Selasa (26/1) bahwa negara-negara kaya seharusnya tidak berlebihan menyimpan vaksin COVID-19, dan dunia perlu bekerja sama untuk mengatasi pandemi.

Ramaphosa mengatakan dalam pertemuan virtual Forum Ekonomi Dunia bahwa mereka yang menimbun vaksin perlu mengeluarkan simpanan tersebut “agar negara lain dapat memilikinya.” (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini