-->
    |

Spekulasi Makin Berkembang Tentang Nasib Miliarder Jack Ma

Jack Ma menghadiri Konferensi World Artificial Intelligence di Shanghai, China, 17 September 2018. (foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com
- Jack Ma dari China - yang pernah menjadi guru sekolah, miliarder, pendiri dan mantan ketua raksasa teknologi Alibaba dan filantropis – hilang dari sorotan publik. Spekulasi tentang nasibnya kini berkembang karena ketika tokoh-tokoh terkenal China menghilang, penangkapan dan penuntutan sering mengikutinya.

Tidak terlihat di depan umum sejak Oktober, para analis mengatakan Ma mungkin bersembunyi karena otoritas China menyelidiki kerajaan bisnisnya yang luas. Penyelidikan itu disinyalir setelah dia menyampaikan pidato yang dinilai menghasut beberapa hari sebelum peluncuran penawaran umum perdana saham (IPO) dari afiliasi keuangan Alibaba, Ant Group, yang sangat dinanti-nantikan

Pidato tersebut, yang disampaikan di Shanghai Financial Summit pada 24 Oktober, mengecam regulator keuangan China sebagai tidak masuk akal dan mendesak mereka untuk lebih inovatif.

Itu adalah penampilan terakhir Ma di depan publik.

Pada 2 November, regulator keuangan Partai Komunis China (PKC) mewawancarai eksekutif Ant Group dan Ma. Ma tidak lagi memegang posisi eksekutif atau dewan di salah satu perusahaan yang didirikannya bersama tetapi merupakan pemegang saham individu terbesar di Alibaba dengan menggenggam 5 persen kepemilikan, atau bernilai sekitar $ 25 miliar.

Pada 3 November, otoritas menghentikan IPO Ant Group. Dijadwalkan secara bersamaan di Shanghai dan Hong Kong pada 5 November, IPO itu diharapkan menghasilkan $ 37 miliar, yang akan menjadikannya IPO terbesar di Dunia. Saat itu, koran Wall Street Journal melaporkan bahwa Xi Jinping, presiden Republik Rakyat China dan ketua PKC, secara pribadi telah memerintahkan pemblokiran IPO Ant Group setelah mendengar pidato Ma.

Pada 24 Desember, Administrasi Negara untuk Peraturan Pasar (NIM) China membuka penyelidikan terhadap Alibaba atas kemungkinan adanya praktik monopoli, dan saham Alibaba merugi lebih dari $ 110 miliar dalam nilai pasar hari itu.

Seminggu kemudian, badan tersebut mendenda Tmall milik Alibaba, yakni situs web untuk menjual produk langsung ke konsumen secara online, karena pelanggaran anti-monopoli.

Sementara sebagian orang percaya bahwa Ma telah meninggalkan China, Ge Bidong, seorang ekonom yang berbasis di Los Angeles dan komentator masalah-masalah terkini, mengatakan kepada VOA bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.  (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini