-->
    |

Infeksi Meningkat di India Picu Kekhawatiran Pandemi Gelombang Kedua

Petugas memeriksa suhu tubuh para penumpang di stasiun kereta Mumbai, di tengah lonjakan infeksi COVID-19 di India, Rabu (17/3). (foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com -
Perdana Menteri India Narendra Modi telah menyerukan "langkah cepat dan tegas" untuk segera menghentikan pandemi gelombang kedua COVID-19 yang merebak di negara itu.

Kasus-kasus meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah penurunan secara konsisten meningkatkan harapan bahwa pandemi berkurang di India, yang memiliki kasus terbanyak setelah Amerika dan Brazil.

Dengan hampir 29.000 infeksi baru pada hari Selasa, India melaporkan angka tertinggi satu hari dalam tiga bulan terakhir.

Otoritas kesehatan mengatakan lonjakan itu tidak dipicu oleh mutasi virus seperti yang terjadi di beberapa negara Barat. Mereka menuduh buruknya kepatuhan terhadap protokol seperti mengenakan masker. Pasar-pasar di India tetap ramai dan pembatasan telah dicabut di tempat umum seperti kuil, restoran, dan ruang bioskop di sebagian besar negara itu.

Namun ada sisi baiknya, sebagian besar kasus baru terbatas pada beberapa negara bagian, dimana negara bagian Maharashtra di barat menjadi pusat infeksi baru.

“Jika kita tidak menghentikan pandemi di sini, maka akan terjadi wabah nasional ” demikian peringatan yang disampaikan Modi Rabu dalam pertemuan virtual dengan menteri-menteri penting India. “Rasa percaya diri yang kita capai dalam perang melawan virus corona jangan menjadi berlebihan. Keberhasilan kita seharusnya tidak menjadi alasan kecerobohan."

Pihak berwenang di Maharashtra, salah satu negara bagian paling modern dan berkembang secara ekonomi, mulai memberlakukan kembali pembatasan minggu ini. Salah satu kota besar negara bagian itu, Nagpur, telah ditutup selama seminggu. Bioskop, hotel, dan restoran diperintahkan untuk membatasi tamu hingga separuh dari kapasitasnya hingga akhir bulan.

Pejabat kesehatan di Mumbai, ibu kota negara bagian itu, mengatakan sebagian besar kasus baru terjadi pada kelompok usia kerja 20-40 tahun.  (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini