-->
    |

Kelompok Bantuan Serukan Kesetaraan Akses atas Vaksin COVID-19

Seorang petugas memberikan vaksinasi COVID-19 di Klerksdorp, Afrika Selatan (foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com
- Kelompok-kelompok pemberi bantuan mengatakan, paling sedikit sembilan eksekutif dan investor dari perusahaan yang membuat vaksin virus corona telah menjadi milyarder tahun lalu berkat paten dari alat inokulasi mereka. Mereka juga menyerukan agar bisnis farmasi berbagi teknologi sehingga produksi global dari vaksin bisa secara cepat ditingkatkan sementara laju infeksi masih belum menurun di negara-negara miskin.

Vaksin virus corona telah mengubah arena pertempuran melawan COVID 19. Tetapi inovasi ini juga menambah kekayaan pribadi dari beberapa pebisnis dan investor yang terlibat dalam pengembangannya, demikian menurut People’s Vaccine Alliance, PVA, atau Aliansi Vaksin Rakyat, kelompok organisasi nir-laba yang mengkampanyekan akses global yang setara ke vaksin, termasuk dana amal Oxfam.

Max Lawson, Kepala Urusan Ketidaksetaraan di Oxfam mengatakan, “Bisnis farmasi yang berada dibelakang vaksin-vaksin COVID 19 yang paling terkenal seperti Pfizer dan Moderna, meraih keuntungan sangat besar dari monopoli mereka atas vaksin-vaksin ini. Akibatnya, investor dan CEO perusahaan-perusahaan ini menjadi milyarder untuk pertama kalinya.”

Mereka termasuk CEO dari Moderna di Amerika, dan BioNTech di Jerman, demikian menurut temuan analisa PVA. Aliansi ini mengklaim eksekutif dan investor lain yang terlibat dengan Moderna dan CanSino Biologics dari China juga menjadi milyarder.

Max Lawson menambahkan, “Vaksin-vaksin COVID 19 ini didanai dengan uang milik publik, pembayar pajak seperti Anda dan saya. Jadi ini bukan milik perusahaan, dan ini tidak seharusnya dimanfaatkan untuk menciptakan keuntungan luar biasa itu.”

Kepemilikan paten atas vaksin-vaksin itu berarti perusahaan farmasi bisa mendikte harga dan distribusi dari obat ini, kata Lawson.

“Karena monopoli ini, kita akhirnya mengalami kelangkaan artifisial. Dan ada ruang cukup untuk perusahaan-perusahaan ini mengupayakan pengembalian modal yang pantas bukannya keuntungan besar-besaran, bukan untuk menciptakan milyarder – tetapi berbagi teknologi, berbagi hak intelektual, serta memberi kesempatan kepada produsen vaksin yang kompeten di Bumi ini membuat vaksin yang kita butuhkan.”

Di dalam sebuah pernyataan, BioNTech mengatakan, pihaknya sudah meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 3 milyar dosis pada 2021. Perusahaan itu menambahkan, paten-paten bukan faktor yang membatasi produksi vaksin – yang mengutip kata-katanya merupakan ‘sebuah proses yang rumit dan dikembangkan selama lebih dari satu dekade.”

Moderna tidak menanggapi permohonan untuk berkomentar saat laporan ini diterbitkan.

Negara-negara miskin menghadapi kekurangan dramatis dalam pasokan vaksin. Amerika bulan ini menyatakan dukungan bagi langkah untuk mengenyampingkan masalah paten dari vaksin virus corona, yang sebelumnya juga sudah diusulkan oleh India dan Afrika Selatan.

Isu ini menjadi agenda utama pada KTT Kesehatan Global yang diselenggarakan kelompok G20 di Roma pada Jumat.

Dalam deklarasi bersama, kelompok G20 menyerukan agar lisensi dan pengalihan teknologi dilakukan secara sukarela, tetapi kelompok ini tidak menyinggung pengenyampingan masalah patennya.

Uni Eropa telah berjanji akan memberikan 100 juta dosis vaksin kepada negara-negara miskin tahun ini, serta membangun pusat produksi vaksin di benua Afrika. (VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini