-->
    |

121 Siswa di Nigeria Diculik, Keluarga Saling Menguatkan

Orang-orang turun ke jalan Kaduna untuk memprotes penculikan semalam di daerah pemerintah daerah Chikun Kaduna, Nigeria 8 Juli 2021. (Foto:VOA)

Kapuasrayatoday.com - Puluhan anggota komunitas Baptis pada hari Jumat (9/7) berkumpul di Damishi untuk menghibur dan mendukung keluarga lebih dari 120 siswa yang diculik dari sebuah sekolah awal pekan ini.

Sekelompok laki-laki bersenjata menyerbu SMA Bethel Baptist di negara bagian Kadunia Senin (5/7) pagi , melepaskan tembakan secara sporadis selagi mereka menculik 121 siswa.

Dua penjaga keamanan tewas ketika melawan para penculik.

Penculikan siswa SMA Bethel Baptist itu adalah yang keempat di negara bagian Kaduna dalam enam bulan terakhir.

Sepanjang tahun 2021 ini sudah tujuh kali terjadi penculikan pelajar secara massal.Sejumlah orang tua tidak dapat menyembunyikan keputusasaan dan kemarahan mereka, tidak saja karena apa yang terjadi pada anak-anak mereka, tetapi juga karena situasi keamanan dan kurangnya tindakan pemerintah. “Pemerintah harus bangun dan mengatasi masalah keamanan ini secara serius,” ujar John Joseph Hayab, salah seorang pendiri sekolah dan Direktur Asosiasi Kristiani Nigeria di Kadunia, yang putranya berhasil menyelamatkan diri dari para bandit.

Sementara Linus Bonnet, salah seorang ibu yang anaknya diculik, terang-terangan menyalahkan pemerintah. “Pemerintah mengatakan mereka tidak tahu siapa para penculik itu, mereka tidak mau tahu! Mengapa saya bilang demikian, karena kini kita punya teknologi. Ketika saya masih sekolah, tidak ada teknologi seperti yang kita punya sekarang. Pemerintah tidak bertanggungjawab melindungi kami di negara ini. Kami tidak pernah merasa ada perlindungan. Tolong lah, kami ingin pemerintah lebih baik. Kami ingin anak-anak kami kembali,” ujarnya lirih kepada Associated Press.

Penculikan pelajar menjadi hal biasa di bagian utara Nigeria, di mana sejak Desember lalu hampir 1.000 siswa telah diculik dari berbagai sekolah.

Banyak sekolah dipaksa tutup karena pihak berwenang tidak mampu melindungi mereka secara memadai. ( VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini