-->
    |

China Dituduh Bertanggung Jawab atas Kematian Peneliti Uighur


Pagar yang mengelilingi pusat pelatihan kejuruan di Dabancheng, di Xinjiang, Uighur, 4 September 2018. (Foto:VOA) 


Kapuasrayatoday.com - Kematian mencurigakan pada Desember 2020 dari seorang peneliti biologi Uighur di sebuah fasilitas penahanan di Xinjiang telah menarik perhatian media sosial.

Mihriay Erkin, yang berusia 29 tahun, meninggalkan pekerjaannya di Nara Technology and Science Institute di Jepang pada Juni 2019 dan pulang ke China karena keprihatinan dengan keselamatan orang tuanya di Xinjiang. Dia kemudian ditahan dan dikirim ke pusat penahanan Yanbulaq di Kashgar pada Februari 2020.

Kerabatnya menuduh penguasa China atas kematiannya, yang mereka baru ketahui baru-baru ini. China membantah tuduhan melakukan penganiyaan terhadap orang Uighur dan menyebut kamp-kamp itu sebagai “lembaga kejuruan” yang akan menderadikalisasi para ekstremis.

“Saya baru tahu enam bulan setelah keponakan saya Mihriay dibunuh oleh penguasa China, tetapi saya tidak tahu apakah dia dikubur secara benar atau tidak,” kata Abduweli Ayup, paman Erkin dan seorang aktivis hak-hak Uighur yang tinggal di pengasingan di Norwegia.

Ayup melancarkan sebuah kampanye media sosial minggu lalu bersama aktivis Uighur lainnya guna menyebarluaskan kasus Erkin serta menuntut agar China membeberkan kondisi seputar kematiannya.

Ayah dari Mihriay Erkin, Erkin Ayup, seorang mantan pejabat pemerintah China, dan bibinya, Sajidigul Ayup, mantan guru SMA, telah ditahan oleh penguasa China selama hampir dua tahun di Xinjiang, ketika Mihriay memutuskan meninggalkan Jepang pada 2019. (VOA) 

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini