-->
    |

Kerabat Korban Penculikan Haiti Berdoa untuk Korban dan Penculik

Orang-orang berdoa menentang epidemi penculikan yang melanda Haiti, di tengah kerusuhan politik dan kesengsaraan ekonomi yang semakin dalam, selama misa di Port-au-Prince, Haiti 15 April 2021. (Foto:VOA)

Kapuasrayatoday.com - Menteri Kehakiman Haiti Liszt Quitel mengatakan geng yang menculik 17 warga Amerika menuntut uang tebusan $1 juta per orang. Quitel mengkonfirmasi angka tersebut kepada New York Times. Korban terdiri atas 12 orang dewasa dan lima anak berusia 8 bulan dan 3, 6, 14 dan 15 tahun.

Gelombang penculikan memicu pemogokan yang menutup bisnis, sekolah, dan transportasi umum sehingga memperburuk ekonomi Haiti yang payah, dan serikat pekerja serta kelompok-kelompok lain berjanji akan melanjutkan aksi mogok mereka pada Selasa (19/10).

FBI dan para pejabat Amerika lainnya membantu pihak berwenang Haiti mencari para korban dari Pelayanan Bantuan Kristen (Christian Aid Ministries) di Ohio, yang diculik pada Sabtu (15/10) dalam perjalanan kembali dari kunjungan ke sebuah panti asuhan.Penculikan ini adalah yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, sementara geng-geng di Haiti semakin berani dan meningkatkan penculikan ketika negara itu berusaha pulih dari pembunuhan 7 Juli terhadap Presiden Jovenel Moise dan gempa berkekuatan 7,2 yang menghantam Haiti selatan pada 14 Agustus, menewaskan lebih dari 2.200 orang.

Polisi Haiti mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa penculikan 16 warga Amerika dan satu warga Kanada itu dilakukan oleh geng 400 Mawozo, sebuah kelompok dengan catatan panjang pembunuhan, penculikan dan pemerasan.

Geng itu telah dituduh menculik anak sekolah, dokter, polisi, penumpang bus dan lain-lain sementara mereka tumbuh lebih kuat dan menuntut uang tebusan mulai dari beberapa ratus dolar hingga jutaan dolar.Ned Price, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, mengatakan para pejabat AS telah melakukan kontak terus-menerus dengan Polisi Nasional Haiti, kelompok misionaris, dan kerabat para korban.

“'Ini adalah sesuatu yang telah kami perlakukan dengan prioritas utama sejak Sabtu,”' katanya, seraya menambahkan bahwa para pejabat sedang melakukan “semua yang kami bisa lakukan untuk mencari penyelesaian cepat.”Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan meningkatnya kekerasan geng telah mempengaruhi upaya bantuan di Haiti. Dia mengatakan utusan dan koordinator kemanusiaan PBB melaporkan bahwa “kekerasan, penjarahan, blokade jalan dan kehadiran geng-geng bersenjata yang terus-menerus semuanya menimbulkan hambatan bagi akses bantuan kemanusiaan.

Di antara mereka yang diculik adalah empat anak dan salah satu orang tua mereka dari sebuah keluarga di Michigan, kata pendeta mereka kepada suratkabar Detroit News. Yang termuda dari keluarga itu berusia di bawah 10 tahun, kata Pendeta Ron Marks. Mereka tiba di Haiti awal bulan ini, katanya.

Dua warga yang sedang melakukan perjalanan singgah di kantor pusat organisasi itu pada hari Senin untuk mengantarkan paket bagi negara-negara miskin. Tirtzah Rarick, yang berasal dari California, mengatakan bahwa dia dan seorang temannya berdoa pada hari Minggu dengan mereka yang memiliki kerabat di antara para korban penculikan.Meskipun menyakitkan dan membuat kami menangis karena teman atau kerabat kami yang terkasih sekarang mengalami penderitaan secara fisik, emosional, dan mental yang sungguh nyata, kami merasa terhibur bahwa kami dapat membawa beban berat ini kepada Tuhan yang kami sembah," katanya.

Tirtzah Rarick mengatakan bahwa ada keyakinan dan ketenangan bahwa para sandera akan setia pada kebenaran dan hal itu memberikan rasa damai bagi para anggota keluarga.

“Saya tahu ini menyakitkan bahwa orang-orang yang mereka sayangi kini menderita, tetapi ada keyakinan dan ketenangan bahwa apa pun yang terjadi, kami dapat percaya bahwa teman-teman kami itu akan setia pada kebenaran dan itu memberi kami rasa damai," tambahnya.Berita penculikan menyebar dengan cepat di Holmes County dan sekitarnya di negara bagian Ohio, pusat salah satu populasi terbesar warga Amish dan Mennonit konservatif, kata Marcus Yoder, Direktur Eksekutif Pusat Warisan Amish & Mennonit di dekat Millersburg, Ohio.

Christian Aid Ministries didukung oleh gereja Mennonit, Amish dan kelompok-kelompok terkait dari tradisi Anabaptis.

Organisasi ini didirikan pada awal 1980-an dan mulai bekerja di Haiti pada akhir dekade itu, kata Steven Nolt, profesor sejarah dan studi Anabaptis di Elizabethtown College di Pennsylvania. Kelompok itu memiliki staf misi sepanjang tahun di Haiti dan beberapa negara, katanya, dan mengirimkan pasokan sekolah dan medis ke seluruh dunia.Kelompok Anabaptis, aliran yang tidak menggunakan teknologi dan hidup dalam kesederhanaan, dan memiliki tradisi berpakaian sederhana, hidup sederhana, yang terpisah dari masyarakat arus utama, berdisiplin ketat dan berkeyakinan non-perlawanan terhadap kekerasan.

Setiap bulan September di Ohio kelompok ini mengadakan lelang yang disebut “Haiti Benefit Auction.” Lelng yang hasilnya disumbangkan untuk Haiti ini menjual barang-barang perabotan buatan tangan, selimut, kayu bakar, peralatan-peralatan lain, dan berbagai jenis akanan. Acara lelang ini biasanya menghasilkan sekitar $600.000 yang seluruhnya disumbangkan ke Haiti.(VOA)















Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini