-->
    |

Hukuman terhadap ISIS Buka Jalan Menuju Keadilan bagi Keluarga Korban

Sketsa ruang sidang pengadilan federal AS di Alexandria, Virginia, AS 1 April 2022, menampilkan El Shafee Elsheikh, mantan warga negara Inggris yang dituduh terlibat dalam penyanderaan dan konspirasi pembunuhan sebagai tersangka anggota ISIS (Foto:VOA)


Kapuasrayatoday.com - Sidang pengadilan selama dua minggu di Pengadilan Federal Virginia telah menghadirkan secercah keadilan bagi para keluarga warga Amerika yang diculik dan dibunuh di Suriah.

Dewan juri memutuskan bahwa warga Inggris El Shafee Elsheikh terbukti bersalah atas perannya dalam menyandera 26 warga Barat oleh ISIS.

Elsheikh adalah bagian dalam sel ISIS yang oleh para sandera dikenal sebagai “The Beatles” karena logat Inggris mereka. Dia ditangkap pada 2018 bersama Alexanda Kotey, dan keduanya dibawa ke AS pada 2020 untuk diadili. Kotey sudah mengaku bersalah pada 2021.

Pada 14 April, dewan juri memutuskan Elsheikh terbukti bersalah atas delapan butir tuduhan terkait dengan perannya dalam penyanderaan dan pembunuhan jurnalis Amerika James Foley dan Steven Sotloff, serta pekerja bantuan Peter Kassig dan Kayla Mueller.Keluarga para sandera itu menyambut baik keputusan pengadilan, dan mengatakan bahwa keadilan telah ditegakkan. Ketika sidang pengadilan dibuka, Diane Foley, yang putranya diculik pada 2012, menggarisbawahi pentingnya peradilan yang adil.

"Saya berpendapat kita harus melakukan langkah berlawanan dari apa yang telah terjadi. Bagi saya ini perbedaan yang besar. Maksud saya, sandera Inggris dan Amerika tidak diberi peluang apa-apa. Mereka diperlakukan sebagai binatang, mereka disiksa, dibiarkan kelaparan, mereka sama sekali tidak diperlakukan dengan adil. Saya rasa penting bahwa kita memperlihatkan bagaimana orang yang beradab seharusnya bereaksi terhadap orang lain,” jelasnya.

Dan karena itulah, kata pakar, persidangan ini mempunyai makna penting.Jadi para keluarga sandera AS sudah mengungkapkan keinginan mereka agar orang-orang yang terlibat dalam penculikan dan pembunuhan anak-anak mereka dituntut pertanggungjawabannya atas tindakan mereka di pengadilan AS. Jadi kasus ini benar-benar menunjukkan bagaimana para keluarga ini berada di garis depan dan bagaimana mereka terus menerus berjuang untuk anak-anak mereka,” kata Stephanie Foggett, pakar di LSM keamanan global The Soufan Center.

Mereka yang terlibat dalam kegiatan teror termasuk penculikan dan pembunuhan jarang dihadapkan ke pengadilan di negara asal korban mereka.

Randall Rogan adalah profesor ilmu komunikasi di Wake Forest University di North Carolina. Melalui Zoom dia mengatakan, “Saya rasa untuk mereka yang berada di luar AS, ini menunjukkan seberapa besar pemerintah dan penguasa AS bersedia untuk bertindak dalam menuntut pertanggungjawaban atas kematian warga Amerika di luar AS, khususnya dalam kondisi yang sedemikian mengerikan.”

Sidang pengadilan Elsheikh melapangkan jalan bagi badan-badan penegak hukum AS untuk mengajukan kasus-kasus serupa terhadap warga asing yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap warga AS di luar negeri, kata Rogan.

Juga, penegakan hukum ini menawarkan jalur untuk para keluarga sandera lainnya yang menjadi korban kegiatan teror di luar negeri yang menginginkan keadilan bagi kerabat mereka.

“Ini bisa saja menjadi model untuk para keluarga dan sandera yang selamat pada masa depan. Mereka bisa melihat kasus ini dan mengatakan, “Inilah yang kami inginkan. Inilah keadilan yang kami inginkan untuk kerabat yang kami cintai,” imbuh Stephanie Foggett dari Soufan Center.

Supaya itu bisa terwujud lagi di AS, Foggett menambahkan, kerjasama multilateral yang efektif dengan sekutu-sekutu dan mitra-mitra Amerika di seluruh dunia harus diteruskan.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini