-->
    |


Kenaikan Harga Minyak Pukul Bisnis Pemandian Umum di Jepang

Tokuji Ito (53), pemilik pemandian umum Jepang (atau sento) 'Dai-ni Takara-yu', bersiap untuk membuka fasilitasnya di Tokyo, Jepang 25 November 2021. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - Tokuji Ito adalah generasi ketiga pemilik pemandian umum di Tokyo. Lonjakan harga minyak membuatnya khawatir tentang masa depan bisnisnya.

Pada bulan-bulan yang dingin tahun ini, ia harus mengeluarkan biaya operasi 50% lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Peningkatan biaya itu semata karena ia membutuhkan bahan bakar yang harganya kini melambung untuk memanaskan bak-bak air hangatnya

"Pascapandemi COVID-19, saya berharap para pelanggan akan kembali. Namun saya khawatir ini tidak mudah mengingat harga bahan bakar yang naik musim dingin ini,"Ito, 53, adalah pemilik "Daini Takara-yu", pemandian umum yang didirikan pada 1949 dan lokasinya terselip di jalan belakang sebuah kawasan perumahan di wilayah barat ibu kota Jepang. Jalan itu begitu sempit sehingga hampir tidak bisa dilalui mobil.

Pemandian umum, atau sento, secara tradisional melayani orang-orang yang tidak memiliki bak mandi di rumah. Fasilitas ini tidak sekadar tempat berendam di air hangat, tapi juga tempat untuk bersosialisasi.

Meskipun Tokyo menghadapi gelombang keadaan darurat akibat coronavirus berulang kali, sento-sento di kota itu diharuskan untuk tetap buka jika tidak ingin kehilangan izin operasi. Namun dengan jumlah pelanggan yang turun dan kenaikan harga minyak yang signifikan, bisnis sento-sento itu terpukul.Ito sekarang harus membayar 450.000 yen (atau sekitar $3.900) sebulan pada bulan Januari dan Desember untuk membeli bensin yang dibutuhkan untuk memanaskan ketel raksasa yang mengalirkan air panas ke dalam bak. Pada periode yang hampir sama pada 2020, ia hanya perlu mengeluarkan sekitar 300.000 yen (sekitar $2.600).

Ito sendiri tidak bisa meningkatkan tarif mandi di sento miliknya sekehendak hatinya, karena tarif tersebut ditetapkan oleh pemerintah Tokyo.

Pemandian umum sebetulnya semakin tidak populer di Jepang. Jumlahnya mencapai 18.000 pada tahun 1968 tetapi sekarang hanya 1.964. Warga Jepang lebih memilih untuk mandi di rumah. Banyak pemilik pemandian umum berusaha bertahan dengan menghadirkan bar yang menawarkan bir dan ruang sauna yang populer di kalangan orang muda.Shuji Yamazaki, 70, yang datang ke tempat pemandian umum tiga sampai empat kali seminggu, menyayangkan fenomena menyusutnya jumlah pemandian umum.

“Banyak pemandian umum secara bertahap tutup. Saya tinggal jauh dari sini tapi saya selalu datang ke sini karena ini merupakan kebutuhan saya. Saya berharap tempat-tempat pemandian umum tetap beroperasi, dan saya tidak keberatan jika mereka menaikkan tarif masuk.” (VOA)









Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini