-->
    |


Teknologi Aroma Hidupkan Karya Seni

Pengunjung menikmati lukisan yang dipamerkan di Museo del Prado Madrid, Spanyol, Sabtu, 6 Juni 2020. (Foto:VOA)

Kapauasrayatoday.com - Aneka aroma memenuhi ruang-ruang Museo Nacional del Prado di Madrid. Sepuluh aroma berembus di pameran ini melalui empat diffuser yang terhubung ke monitor.

Pameran yang bertajuk The Essence of a Painting, atau Esensi Sebuah Lukisan ini menggunakan pendekatan baru. Para pengunjung diminta menggunakan indra penciuman mereka.

Alejandro Vergara, kepala Konservasi Lukisan Flemish di Museo Nacional del Prado dan kurator pameran ini, menjelaskan,“Yang kami lakukan pada awalnya di sini adalah mencoba menarik perhatian pada seninya dan cara kami memutuskan untuk melakukan itu, setelah banyak pertimbangan, adalah sekadar mengisolasikan salah satu lukisan panca indra, lukisan yang berkenaan dengan indra penciuman. Dan menggunakannya untuk memusatkan perhatian kita pada hal lain yang tidak mendapat banyak perhatian kita, yaitu bau masa lalu.”

Lukisan dari abad ke-17 berjudul Smell karya Jan Brueghel Senior dan Peter Paul Rubens, adalah salah satu karya seni yang dipamerkan.

Para pengunjung dapat membaui berbagai elemen yang ada dalam lukisan tersebut. Vergara menjelaskan lukisan itu memiliki sekitar 80 hingga 90 objek yang menghasilkan bau, kebanyakan bunga, dan 10 di antaranya dipilih.Penyelenggara pameran menyiapkan beberapa layar yang diciptakan dengan teknologi parfum udara oleh perusahaan bernama Puig. Pengunjung dapat memasuki ruangan, menekan lukisan objek di layar, yang akan mengeluarkan aromanya, jelas Vergara.

Lukisan yang dimaksud itu menggambarkan taman dengan aneka pepohonan dan tanaman unik milik Isabel Clara Eugenia dan suaminya di Brussels pada awal abad ke-17.

Lebih dari 80 spesies tanaman dan bunga terwakili di sana, sebagian terkait dengan hewan seperti anjing pemburu atau musang, dan berbagai benda yang terkait dengan dunia wewangian, seperti sarung tangan harum, wadah-wadah berisi zat-zat wangi, juga pewangi ruangan yang dipanaskan di anglo mewah dan alat-alat penyuling esens.

Berkat teknologi yang diciptakan Puig itu, para pengunjung dapat merasakan sisi baru dari sebuah lukisan.

Gregorio Sola, kurator dan ahli parfum senior di Puig serta akademisi di Academy of Perfume, meyakini bahwa mesin-mesin penciuman itu akan membantu pengunjung mendapat lebih banyak pengalaman dari kunjungan ke museum.

"Perpaduan dua indra, visual dan penciuman, membuat memori jadi lebih kuat. Jadi saya pikir menambahkan aroma ke sebuah lukisan dapat membuat orang lebih ingat lagi pada Jan Brueghel dan Rubens. Ini adalah lukisan yang indah dengan detail luar biasa. Semakin saya lihat dan jelajahi, semakin banyak detail berbeda yang saya temukan,” jelasnya.

Sola telah menciptakan 10 aroma yang terkait dengan lukisan itu, yang memungkinkan para pengunjung untuk menjelajahinya dengan aroma tersebut.Carlos Rodriguez, seorang pengunjung, mengatakan,"Menurut saya ini adalah pengalaman yang fantastis. Aromanya benar-benar otentik. Ini dilakukan dengan baik sekali, yang memberi kita dimensi berbeda sewaktu melihat lukisan itu. Bagi saya ini kejutan yang sangat menyenangkan.

Yolanda Sandoval adalah pemandu wisatawan yang mengajarkan orang-orang mengenai seni di museum itu. Menurutnya, pameran semacam ini akan membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah.

"Ini mendorong pariwisata dan yang penting ini membuat orang lebih mudah memahaminya. Sebuah lukisan dapat terasa agak membosankan, lukisan punya banyak makna tetapi kita harus menjelaskannya agar mereka dapat menangkap esensi lukisan itu secara menyeluruh. Ini membantu karena pengunjung dapat membaui esensnya. Ini adalah inisiatif yang sangat baik, yang saya harap akan diperluas ke museum-museum lain,” komentarnya.

Karya utama dalam eksibisi ini, Smell, adalah bagian dari seri “Panca Indra” yang dipamerkan di ruang yang sama.

Pada tahun 1636, kelima lukisan itu ada di Madrid, sebagai koleksi Raja Philip IV. Pameran ini terbuka bagi umum hingga 3 Juli mendatang. (VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini