-->
    |

Pakar Tawarkan Solusi Menikmati Borobudur Melalui Metaverse

Siluet Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah pada fajar 1 Januari 2004. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - Pemanfaatan metaverse menjawab banyak tantangan di tengah upaya pelestarian Candi Borobudur. Teknologi maju ini akan digemari anak muda, membantu upaya melestarikan candi, sekaligus dapat dikunjungi dalam kapasitas besar.

Peneliti sekaligus goefisikawan dari Fakultas MIPA UGM, Dr.rer.nat. Wiwit Suryanto menyebut metaverse adalah gerbang masuk menuju ke dunia virtual tiga dimensi.

“Dengan metaverse, kita bisa seolah-olah melihat langsung di depan kita. Jadi tidak lewat layar. Ruang di sekitar kita itu sudah menjadi layarnya. Sekeliling kita itu semua menjadi layar,” jelas Wiwit, peneliti di Center of Metaverse Science, FMIPA UGM.Langkah awal yang harus dilakukan, jelas Wiwit, adalah membangun candi Borobudur di dunia metaverse itu. Kelompok peneliti di Center of Metaverse Science FMIPA UGM atau siapapun yang memiliki kapasitas serupa, dapat melakukannya.

“Mungkin enggak keseluruhan candi di tahap awal. Mungkin bagian tertentu dipilih dahulu untuk kita jadikan pilot project. Kalau respons positif, nanti bisa diteruskan,” tambah Wiwit.

Pembangunan Borobudur di dunia metaverse dilakukan sedetil mungkin, hingga ke relief-reliefnya dengan memanfaatkan teknologi Light Detection and Ranging (LIDAR). Teknologi tersebut, saat ini juga sudah digunakan untuk mendukung proyek-proyek terkait pelestarian Borobudur.Metaverse tidak sekadar pengalaman visual tetapi juga fisik. Dengan penambahan perangkat, wisatawan yang menikmati Borobudur melalui metaverse dapat menaiki tangga, ketika di dunia metaverse dia juga sedang melakukan aktivitas yang sama. Wisatawan bahkan bisa memilih, apakah akan menikmati candi di tengah terik matahari atau ketika matahari terbenam. Jika dia datang di tengah hari, suhu akan disesuaikan agar kulitnya merasakan panas seperti ketika dia benar-benar ada di candi.

Untuk memperoleh pengalaman kompleks ini, wisatawan tetap harus datang ke Borobudur. Sebuah studio khusus disediakan untuk layanan ini. Wiwit menambahkan, investasi untuk membangun fasilitas ini bukan angka yang besar jika dibandingkan dengan layanan yang bisa diberikan kepada wisatawan nantinya.Wiwit sendiri bukan orang baru dalam upaya pelestarian Borobudur, karena selama ini telah bekerja sama dalam berbagai proyek bersama Balai Konservasi Borobudur.

Dominasi Wisatawan Muda

Dalam diskusi Membicarakan Borobudur: Antara Konservasi dan Pariwisata, yang diselenggarakan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Jumat (10/6), Prof T. Yoyok Wahyu Subroto mengingatkan bahwa saat ini, wisatawan didominasi mereka yang ada dalam rentang usia 20-40 tahun.

“Mereka ini adalah generasi yang mendominasi wisatawan yang akan berkunjung ke Borobudur. Mereka memiliki dunia yang berbeda, mereka lebih mengenal dunia virtual dibanding dunia nyata. Mereka lebih akrab dengan virtual reality. Untuk ke candi barangkali tidak perlu harus menaiki, tetapi dengan teknologi kita bisa merasakan batu candi dan reliefnya,” ujar Yoyok, yang juga tenaga ahli di Puspar UGM.Yoyok mengingatkan, perbincangan mengenai kerusakan yang dialami Borobudur sebenarnya sudah dirasakan sejak satu dekade terakhir. Sebagai bangunan, Borobudur sendiri memiliki massa atau berat. Jika ditambah dengan wisatawan yang naik, misalnya seribu orang dengan berat rata-rata 80 kilogram, berarti bebannya akan bertambah 80 ton. Jumlah ini akan memperberat tugas candi menyangga beban.

Karena itulah, wacana mensterilkan Borobudur dari pengunjung juga telah lama terdengar. Hanya mereka yang memiliki kepentingan khusus, seperti penelitian dan ibadah, memiliki akses hingga ke atas.

Kerusakan Terus Terjadi

Kepala Balai Konservasi Borobudur, Wiwit Kasiyati mengakui, sejumlah kerusakan terus terjadi di candi tersebut.

“Retakan batu candi sudah terlihat grafiknya mengalami kenaikan, yang sudah ditangani maupun yang belum ditangani. Kerusakan dari faktor penggaraman juga mengalami kenaikan,” ujarnya dalam diskusi yang sama.Data menunjukkan, pengeloa Candi Borobudur telah mampu menekan potensi sampah dan vandalisme dari pengunjung. Sementara proses sementasi dan pengelupasan masih terus terjadi dan membutuhkan penanganan.

“Dampak dari pengunjung yang banyak dan sebelum pandemi bisa dibilang semua pengunjung boleh naik ke candi Borobudur, bahkan pada saat peak season itu pernah satu hari mencapai 55 ribu pengunjung. Ini karena bertahun-tahun sehingga kerusakan pada batu tangga maupun batu lantai mengalami kenaikan,” tandasnya.

Wiwit memperlihatkan dokumentasi foto yang menunjukkan bagaimana batu-batu di bagian tangga mengalami keausan, terutama di bagian sisi depan. Pada bagian yang langsung menahan alas kami wisatawan, keausan sangat jelas terlihat. Menurut data, nilai keausan mencapai 0,175 cm per tahun, dengan akumulasi mencapai 3,95 cm sejak 1984 sampai sekarang.Sementara secara total, Candi Borobudur mengalami penurunan sebesar 2,2 cm. Meskipun angka tersebut masih aman, namun untuk alasan pelestarian, kata Wiwit, seluruh pihak harus berhati-hati. Keausan juga terlibat di bagian stupa padma, di area atas candi, karena padatnya wisatawan.

Borobudur adalah monumen Buddha terbesar di dunia dengan enam teras bujur sangkar dan tiga pelataran melingkar. Candi ini memiliki 2.672 panel relief naratif dan dekoratif, 1.472 stupa, dan 504 arca Buddha. Dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 meter, Borobudur membutuhkan sekitar 55 ribu meter kubik batu andesit.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini