-->
    |


Para Menteri Dari 164 Negara WTO Bertemu di Jenewa

Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menyampaikan pidato pada pembukaan Konferensi Tingkat Menteri ke-12, di kantor pusat WTO di Jenewa, Swiss, 12 Juni 2022.(Foto:VOA)

Kapuasrayatoday.com - Pimpinan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan tantangan ke depan ketika badan perdagangan itu membuka pertemuan tingkat tertinggi dalam empat setengah tahun, Minggu (12/6), dengan agenda isu-isu seperti kesiapsiagaan pandemi, kerawanan pangan dilatarbelakangi perang Rusia di Ukraina dan penangkapan ikan yang berlebihan di laut dunia.

Ketika sebagian pakar mempertanyakan masa depan dan relevansi WTO, Direktur Jenderal Ngozi Okonjo-Iweala berharap pertemuan yang melibatkan lebih dari 120 menteri dari 164 negara anggota organisasi itu akan menghasilkan kemajuan menuju pengurangan ketidaksetaraan dan memastikan perdagangan yang adil dan bebas.

Okonjo-Iweala mengakui badan perdagangan yang berbasis di Jenewa itu membutuhkan reformasi. “Ini saatnya untuk menghimbau kemauan politik yang sangat dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa WTO bisa menjadi bagian dari solusi atas berbagai krisis kepentingan bersama global yang kita hadapi,” kata Okonjo-Iweala, Minggu, sebelum membuka pertemuan yang berlangsung selama empat hari itu

“Antara sekarang sampai Rabu, kita berkesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa WTO bisa melangkah maju, bahwa kita bisa bertindak untuk memperbaiki masalah lembaga ini, untuk mereformasi dan memodernisasinya,” lanjutnya.Dirjen WTO itu bersikeras bahwa perdagangan telah mengangkat 1 miliar orang keluar dari kemiskinan, tetapi negara-negara miskin – dan orang-orang miskin di negara-negara kaya sering tertinggal.

Ia menyebut keadaan darurat pangan yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, di mana pelabuhan yang diblokade telah menghambat ekspor antara 22 juta hingga 25 juta ton biji-bijian dari Ukraina yang merupakan pemasok roti utama Eropa.

Para menteri pada pertemuan tersebut akan mempertimbangkan apakah mereka akan berkomitmen untuk mencabut atau mengurangi pembatasan ekspor makanan untuk membantu mengurangi tekanan pada negara-negara yang menghadapi kekurangan gandum, pupuk dan produk lainnya karena perang.

Mereka juga akan memutuskan apakah akan mendukung Program Pangan Dunia PBB memperoleh pasokan untuk memberi makan negara-negara yang membutuhkan di seluruh dunia.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini