-->
    |

Pasangan Pelukis Batik Yogyakarta Ajarkan Batik di AS

Agus dan Nia Ismoyo menjelaskan tentang batik di Museum Smithsonian (Foto:VOA)

Kapuasrayatoday.com - Pasangan Agus Ismoyo dan Nia Fliam adalah seniman Indonesia yang menjelajahi batik secara mendalam sebagai seni tekstil kontemporer. Agus Ismoyo berasal dari keluarga yang nenek moyangnya dikenal membuat batik untuk keraton Surakarta.

Bertepatan dengan bulan peringatan warisan budaya Asia di Amerika Mei lalu, Ismoyo sebagai salah seorang seniman Indonesia ikut serta mengenalkan batik sebagai seni dalam tekstil Indonesia.Kepada VOA, ia menjelaskan kedatangannya di Amerika, sebagai penampil lukisan batik dalam sebuah lokakarya.

“Saya presentasikan masalah batik. Beberapa tempat yang kami kunjungi, San Fransisco, Los Angeles, Oregon, dengan anak-anak mahasiswa di sana. Sebetulnya kami diundang oleh Lembaga Kebudayaan California,” ujar Agus.

Sedangkan Nia Fliam lahir di Amerika dan belajar di Pratt Institute, New York. Ia datang ke Indonesia tahun 1983 untuk belajar batik dan sejak itu ia tinggal di sana, dan menikah dengan Agus Ismoyo.Ketika ia kuliah di bidang seni di New York, Nia mendapati bahwa kesenian Indonesia dianggap sebagai seni primitif yang tersingkirkan.

“Waktu saya baru mengetahui tentang batik dan Indonesia, buku-buku seni Indonesia terdapat di bagian ‘seni primitif’, jadi bagi saya itu lucu. Kesenian Indonesia begitu agungnya, jadi kalau dianggap primitif itu, suatu sikap yang menurut saya tidak rela untuk mendengarnya”, ujarnya.

Setelah Nia mempelajari batik, ia melihat banyak kearifan budaya Jawa yang sangat bermakna di dalam batik.Dalam perjalanannya menekuni batik selama 37 tahun, pasangan Agus dan Nia Ismoyo banyak bekerjasama dengan seniman dari negara-negara lain, termasuk dari Australia, Mali dan Nigeria.

“Ya, kami memang sengaja ingin berkolaborasi untuk menggali proses kreatif warisan budaya karena Indonesia memang memiliki warisan budaya yang luar biasa, yang dipakai dalam wayang, tarian, semua ini menjadi suatu bekal untuk seni kontemporer.

Karya kolaborasi itu mereka tuangkan dalam lukisan batik berjudul, “Sacred Zoo” (Kebun Binatang yang Sakral) di atas kain sutra berukuran dua seperempat meter kali 1,4 meter. Mereka memamerkan kain itu di Museum Smithsonian, Washington, DC.Kepala Program Umum pameran, Grace Marie mengatakan, “Nia Ismoyo melakukan lokakarya seni virtual selama pandemi, jadi mereka membuat video proses membuat batik dan menulis di blog. Melalui itulah kemudian kami mengundang pasangan ini untuk memamerkan dan memberi penjelasan tentang batik,” katanya.

Tampaknya tidak sedikit warga Amerika yang telah mengenal batik, seperti warga kota Washington, DC Carmen Delaville.

“Saya selalu ingin membuat batik, dan saya belum pernah mencobanya. Maka inilah kesempatan bagi saya”, katanya ketika ia mendapat kesempatan untuk mencoba langsung bagaimana membatik dengan secarik kertas yang dicap dengan lilin.Sedangkan Ryoko Shinohara, orang Jepang yang sedang berada di Amerika dan pernah ke Indonesia mengatakan, “Menarik sekali, terutama cerita mengenai makna dari pola batik itu sendiri yang menurut saya sangat berkesan. Tidak hanya sebagai sarana hiasan namun juga memiliki makna sesuatu yang lebih penting.”

Meskipun hanya hadir beberapa jam dalam pameran di museum itu, para

pengunjung – terutama yang belum mengetahui proses pembuatan batik

– sangat terkesan dengan pasangan seniman batik yang mempunyai

studio seni Brahma Tirta Sari di Yogyakarta itu.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini