-->
    |


Misionaris AS Diculik di Haiti 


Kedutaan Besar AS di Port-au-Prince, Haiti, 9 Juli 2021.(VOA)


Kapuasrayatoday.com - Sekelompok misionaris berjumlah 17 orang Amerika, termasuk anak-anak, telah diculik oleh geng di Haiti. Penculikan itu terungkap dari pesan suara yang dikirim oleh sebuah kelompok agama yang mengetahui insiden tersebut.

Christian Aid Ministries, yang berbasis di negara bagian Ohio, mengirim pesan ke misi lain, mengatakan bahwa 17 orang itu membantu membangun panti asuhan dan telah meninggalkan lokasi ketika mereka diculik.

“Ini adalah permohonan doa khusus,” kata pesan satu menit itu. “Berdoalah agar para anggota geng itu mau bertobat.”

Pesan itu mengatakan bahwa direktur lapangan misi dan keluarganya dan satu orang tak dikenal lainnya tinggal di pangkalan pelayanan sementara semua orang yang mengunjungi panti asuhan diculik.

Direktur lapangan itu memberi tahu pejabat Amerika Serikat (AS).

eorang juru bicara pemerintah AS mengatakan para pejabat mengetahui laporan penculikan itu. “Kesejahteraan dan keselamatan warga AS di luar negeri adalah salah satu prioritas tertinggi Departemen Luar Negeri,” kata juru bicara itu, sambil menolak berkomentar lebih lanjut.

Penculikan terbaru di Haiti yang dilanda perselisihan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah pejabat tinggi AS mengunjungi negara di Karibia itu dan menjanjikan $15 juta lagi untuk Polisi Nasional Haiti untuk membantu mengurangi kekerasan oleh geng.

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Keamanan Sipil, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia Uzra Zeya, baru-baru ini mengatakan di Twitter, “Membongkar geng-geng kekerasan sangat penting demi stabilitas Haiti dan keamanan warganya.”

Haiti memiliki sejarah panjang penculikan terkait geng, tetapi jumlahnya telah berkurang setelah Presiden Jovenel Moïse dibunuh di kediaman pribadinya pada 7 Juli, dan menyusul gempa bumi berkekuatan 7,2 yang melanda Haiti barat daya pada Agustus. Gempa itu menewaskan lebih dari 2.200 orang.

Penculikan oleh geng kini telah meningkat, dengan tuntutan uang tebusan mulai dari beberapa ratus dolar hingga lebih dari $ 1 juta, kata pihak berwenang.(VOA)


Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini