-->
    |


China: Kesepakatan Senjata Hipersonik AS, Inggris, Australia Jangan Picu Krisis Seperti Ukraina


Huruf AUKUS diilustrasikan di atas bendera Australia, Inggris Raya, dan AS (kiri ke kanan). (Foto:VOA)


Kapuasrayatoday.com - Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun pada Selasa (5/4) memperingatkan terhadap tindakan yang dapat memicu krisis seperti konflik Ukraina di bagian lain dunia ketika ditanya tentang kesepakatan antara Inggris, Amerika Serikat (AS) dan Australia dalam bekerja sama terkait pengadaan senjata hipersonik dan kemampuan peperangan elektronik.

"Siapa pun yang tidak ingin melihat krisis Ukraina harus menahan diri dari melakukan hal-hal yang dapat membawa bagian lain dunia ke dalam krisis seperti ini," kata Zhang kepada wartawan. "Seperti kata pepatah China: jika Anda tidak menyukainya, jangan memaksakannya pada orang lain."Kantor Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan Inggris, AS, dan Australia pada Selasa (5/4) sepakat untuk bekerja sama dalam persenjataan hipersonik dan kemampuan peperangan elektronik. Kesepakatan itu dilakukan menyusul seruan antara para pemimpin aliansi pertahanan baru tersebut.

Aliansi AUKUS yang baru, yang diluncurkan September lalu, mendorong Australia untuk membatalkan kontrak kapal selam konvensional dengan Prancis dan sebagai gantinya beralih pada program kapal selam nuklir yang didukung AS dan Inggris. Hal tersebut merusak hubungan Australia dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.Dalam pernyataan bersama, para pemimpin AUKUS yaitu Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan mereka senang dengan kemajuan program kapal selam bertenaga nuklir yang dipersenjatai secara konvensional untuk Australia, dan bahwa sekutu akan bekerja sama di negara lain juga.

"Kami juga berkomitmen hari ini untuk memulai kerja sama trilateral baru pada hipersonik dan kontra-hipersonik, dan kemampuan peperangan elektronik," kata pernyataan itu.

Amerika Serikat dan Australia telah memiliki program senjata hipersonik yang disebut SCIFiRE atau Southern Cross Integrated Flight Research Experiment. Pejabat Inggris mengatakan bahwa meskipun Inggris tidak akan bergabung dengan program itu pada saat ini, ketiga negara akan bekerja sama dalam penelitian dan pengembangan di wilayah tersebut untuk memperluas pilihan merekaPemerintahan Biden berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan rudal hipersonik, yang bergerak dengan kecepatan lima kali kecepatan suara, karena invasi Rusia ke Ukraina pada Februari telah meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan Eropa.

“Mengingat invasi Rusia yang tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan melanggar hukum ke Ukraina, kami menegaskan kembali komitmen teguh kami terhadap sistem internasional yang menghormati hak asasi manusia, supremasi hukum, dan penyelesaian sengketa secara damai yang bebas dari paksaan,” kata para pemimpin. Mereka juga menegaskan kembali komitmen terhadap "Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka."

Rusia mengatakan pihaknya meluncurkan "operasi militer khusus" di Ukraina pada 24 Februari untuk mendemiliterisasi tetangganya. Alasan Kremlin ditolak oleh Ukraina dan Barat sebagai dalih untuk melakukan invasi yang disebut tanpa alasan.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini