-->
    |


Gedung Putih Konfirmasi Pemberian Sanksi Baru terhadap Rusia


Dua perempuan berjalan melewati kantor penukaran uang yang menampilkan nilai tukar antara dolar dan euro dengan rubel pada layar kantornya di Moskow, Rusia, pada 1 April 2022. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutu Barat berencana untuk menjatuhkan sanksi tambahan pada Rusia pada Rabu (6/4) setelah muncul bukti baru yang mengganggu tentang kejahatan perang di Ukraina. Hukuman baru itu akan mencakup larangan semua investasi baru di Rusia.

Di antara langkah-langkah lain yang diambil terhadap Rusia adalah sanksi yang lebih besar terhadap lembaga keuangan dan perusahaan milik negara, dan sanksi terhadap pejabat pemerintah dan anggota keluarga mereka, demikian disampaikan juru bicara Gedung Putih Jen Psaki.Tujuannya adalah memaksa mereka membuat pilihan. Bagian terbesar dari tujuan kami di sini adalah menghabiskan sumber daya yang dimiliki Putin untuk melanjutkan perangnya melawan Ukraina," kata Psaki.

Secara terpisah, Departemen Keuangan AS, pada Selasa (5/4), bergerak untuk memblokir pembayaran utang pemerintah Rusia dengan dolar AS dari rekening di lembaga keuangan AS, sehingga mempersulit Rusia untuk memenuhi kewajiban keuangannya.

Presiden Joe Biden dan negara-negara sekutu AS telah bekerja sama untuk memberlakukan hukuman ekonomi yang melumpuhkan terhadap Rusia karena menyerang Ukraina lebih dari sebulan yang lalu, termasuk pembekuan aset bank sentral, kontrol ekspor dan penyitaan properti, termasuk kapal pesiar, milik para elit kaya Rusia.

Namun seruan untuk meningkatkan sanksi meningkat minggu ini sebagai tanggapan atas serangan, pembunuhan dan perusakan di Kota Bucha, Ukraina.Sanksi tersebut dimaksudkan untuk melanjutkan “isolasi” ekonomi, keuangan, dan teknologi Rusia dari seluruh dunia sebagai hukuman atas serangannya terhadap warga sipil di Ukraina, kata Psaki.

Isolasi itu adalah aspek kunci dari strategi AS, yang didasarkan pada gagasan bahwa Rusia pada akhirnya akan kekurangan sumber daya dan peralatan untuk terus berperang dalam perang berkepanjangan di Ukraina.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini