-->
    |


Muratov, Peraih Nobel Perdamaian dari Rusia, Mengaku Diserang dengan Cat Merah

Redaktur surat kabar Novaya Gazeta, Dmitry Muratov, yang juga peraih Nobel Perdamaian tahun lalu, mengambil selfie setelah disiram dengan cat merah oleh seseorang di kereta di Rusia, pada 7 April 2022. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - Warga Rusia pemenang bersama Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, Dmitry Muratov, mengatakan dia diserang di kereta api dengan cat merah pada Kamis (7/4). Serangan itu tampaknya sebagai protes atas liputan surat kabarnya tentang invasi Rusia ke Ukraina.

Dalam sebuah pengumuman, surat kabar investigatif yang dipimpin Muratov, Novaya Gazeta, pekan lalu menangguhkan aktivitas daring dan cetak hingga akhir dari pelaksanaan yang Rusia sebut sebagai “operasi khusus” di Ukraina. Penangguhan itu dilakukan setelah surat kabar itu menerima peringatan kedua dari regulator komunikasi Rusia.Gambar yang diposting oleh surat kabar Navaya Gazeta di aplikasi pesan Telegram menunjukkan Muratov dengan cat merah di kepala dan pakaiannya dan di sekitar kompartemen tidurnya di kereta Moskow-Samara.

“Mereka menuangkan cat minyak dengan aseton ke seluruh kompartemen. Mata rasanya terbakar parah,” kata surat kabar itu mengutip Muratov.

“Muratov, ini untukmu dari anak-anak kami,” kata penyerang itu seperti dikutip oleh surat kabar tersebut tersebut.

Tekanan terhadap media liberal Rusia telah meningkat sejak Moskow mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, dan sebagian besar media arus utama dan organisasi-organisasi yang dikendalikan pemerintah berpegang teguh pada bahasa yang digunakan oleh Kremlin untuk menggambarkan konflik tersebut.

Beberapa aktivis oposisi telah melaporkan adanya pesan-pesan ancaman yang dicat di pintu apartemen mereka.Rusia mengatakan “operasi militer khusus” di Ukraina diperlukan karena Amerika Serikat menggunakan Ukraina untuk mengancam Rusia, dan Moskow harus membela orang-orang berbahasa Rusia di Ukraina dari penganiayaan.

Ukraina dan kritikus di Rusia telah menolak klaim Kremlin tentang penganiayaan itu dan mengatakan Rusia melakukan agresi yang tidak beralasan.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini