-->
    |


Korban Penembakan Massal Texas Isyaratkan akan Tuntut Produsen Senjata Api

Seorang pria memberikan penghormatannya di sebuah peringatan di luar Robb Elementary School, 2 Juni 2022, di Uvalde, Texas, untuk menghormati para korban yang tewas dalam penembakan di sekolah pada 24 Mei. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - Ayah dari gadis berusia 10 tahun yang ditembak hingga tewas di Sekolah Dasar Robb di kota Uvalde, Texas, beserta seorang pegawai sekolah telah mengambil lagkah awal yang dapat mengarah pada tuntutan hukum terhadap Daniel Defense, produsen senapan semi-otomatis yang digunakan pelaku penembakan massal untuk membunuh 21 orang di sekolah itu.

Pengacara Alfred Garza, ayah mendiang Amerie Jo Garza, siswi SD itu, pada hari Jumat (3/6) melalui sebuah surat meminta Daniel Defense memberikan informasi mengenai pemasaran produknya pada kelompok remaja dan anak-anak.

“Kami meminta Anda untuk mulai memberikan informasi kepada kami sekarang, daripada memaksa Bapak Garza untuk mengajukan gugatan untuk memperolehnya,” isi surat itu.Belum ada tuntutan hukum yang diumumkan terhadap Daniel Defense akibat penembakan massal itu.

Daniel Defense yang berbasis di Black Creek, Georgia, tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan tanggapan.

Salvador Ramos, pelaku penembakan massal di Uvalde yang berusia 18 tahun, menerobos masuk ke dalam gedung sekolah pada 24 Mei lalu dan membunuh 19 murid dan dua guru sebelum ditembak mati aparat keamanan, menurut pihak berwenang.

Ia secara sah membeli senjata api pertamanya pada saat berulang tahun yang ke-18 pada 17 Mei 2022.Josh Koskoff, pengacara Garza, juga memimpin kasus penembakan massal di SD Sandy Hook di kota Newtown, Connecticut, pada tahun 2012, yang berakhir dengan tercapainya penyelesaian kasus dengan produsen senjata api Remington pada bulan Februari, di mana perusahaan itu memberi uang ganti rugi senilai $73 juta (sekitar Rp1 triliun). Hal itu menjadi penyelesaian kasus penembakan massal penting pertama melawan produsen senjata api, yang sebenarnya dilindungi undang-undang federal dari tuntutan hukum.

“Sandy Hook di Connecticut tidak bersifat mengikat di pengadilan Texas, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki kekuatan persuasive,” ujar Koskoff.

Koskoff mengatakan kepada Reuters bahwa ia menerapkan apa yang dipelajarinya dari kasus Sandy Hook ke dalam penyelidikan kasusnya kali ini, dengan berfokus pada pemasaran produk senjata api pada kelompok anak dan remaja, serta penempatan produk senjata api dalam video gim dengan aksi tembak-menembak.Pelaku, pada dasarnya ketika ia berulang tahun ke-18, sudah tahu pasti senjata jenis apa yang ia ingin beli,” kata Koskoff.

Dalam upaya hukum terpisah, pegawai SD Robb bernama Emilia Marin mengajukan permohonan kepada pengadilan negara bagian untuk menuntut perintah penghentian produsen senjata api Daniel Defense dan memaksa perusahaan itu untuk menyerahkan dokumen, lagi-lagi, terkait pemasarannya. Marin sendiri terdaftar sebagai petugas patologi wicara di situs web sekolah tersebut.

Permohonan yang diajukan Marin pada hari Kamis (2/6) merupakan permohonan yang memungkinkan suatu pihak untuk mulai menyelidiki sejumlah klaim potensial.Produsen senjata api umumnya dilindungi dari tuntutan hukum atas penggunaan senjata api secara kriminal oleh undang-undang federal yang disebut sebagai Undang-undang Perlindungan Perdagangan Sah Senjata Api (PLCAA).

Meski demikian, Mahkamah Agung Connecticut pada tahun 2019 memutuskan bahwa perusahaan senjata api Remington Arms dapat dituntut oleh keluarga korban penembakan massal SD Sandy Hook di bawah pengecualian PLCAA, karena Remington diduga menyalahi undang-undang pemasaran di negara bagian itu.(VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini