-->
    |

Mengenang Ruth Ginsburg: Hakim Perempuan Kedua di Mahkamah Agung AS

Hakim Agung AS Ruth Bader Ginsburg berbicara setelah pemutaran "RBG", film dokumenter tentang dirinya, di Yerusalem, 5 Juli 2018. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com - 
Pada 10 Agustus 1993, Ruth Bader Ginsburg menjadi perempuan kedua dalam sejarah AS yang menjadi Hakim Mahkamah Agung AS.

Ginsburg bertekad menjadi seorang pengacara sejak kuliah tingkat tiga.

Dia termotivasi dengan "ketakutan merah" atau "red scare" yang melanda AS pada 1950an, ketika warga AS takut dengan ancaman Uni Soviet.

Dipimpin oleh Senator Joseph McCarthy, ribuan orang dituduh sebagai Komunis.

"Ada pengacara-pengacara berani yang membela orang-orang itu, dan memperingatkan Senat, lihat Konstitusi, lihat Amandemen pertama, apa kata (dokumen-dokumen) itu? Apabila pengacara bisa membantu kita kembali ke nilai-nilai paling dasar, itu cita-cita saya," kata Ginsburg.

Orangtua Ginsburg tak mandukungnya kuliah hukum, karena khawatir dia tidak akan bisa mencari pekerjaan dalam profesi yang didominasi laki-laki.

Namun, Ginsburg tetap teguh. Setelah lulus dari Universitas Cornell pada 1954, dia diterima di Fakultas Hukum Universitas Harvard, hanya lima tahun setelah mereka mulai menerima mahasiswi.

"Ketika saya memasuki fakultas hukum, jumlah mahasiswanya lebih dari 500; hanya sembilan yang perempuan," kata Ginsburg.

Dua tahun kemudian, suami Ginsburg - Martin Ginsburg, seorang pengacara pajak dan profesor hukum ternama, bekerja di New York City, dan Ginsburg pindah ke Fakultas Hukum Universitas Columbia di mana dia menerima gelar pada 1959.

Seperti yang diperkirakan orangtuanya, dia kesulitan menembus dunia yang didominasi laki-laki.

"Tidak ada satupun kantor pengacara di seluruh kota New York yang bersedia menerima saya," kata Ginsburg.

Namun, berkat bantuan seorang profesor yang bersimpati padanya, Ginsburg mendapat pekerjaan sebagai juru tulis.

Ginsburg, Perempuan Pertama yang Disemayamkan di Capitol

Tak lama kemudian, dia mulai mengajar di Fakultas Hukum Universitas Rutgers dan Universitas Columbia.

Pada 1972, Ginsburg mendirikan Women's Rights Project untuk memajukan kesetaraan perempuan dan anak perempuan dalam segala bidang.

"Ketika itu ada banyak UU yang lebih memberi preferensi pada laki-laki hanya karena mereka laki-laki," kata Lenora Lapidus, Direktur Women's Rights Project, sebuah inisiatif dari American Civil Liberties Union.

"Selama 1970an, ketika dia memimpin Women's Rights Project, dia membawa kasus demi kasus ke Mahkamah Agung untuk meyakinkan bahwa Konstitusi mencegah diskriminasi gender," kata Lapidus.

Dua puluh tahun kemudian, Ginsburg menjadi anggota Mahkamah Agung, diangkat pada 1993 oleh Presiden Bill Clinton.

Selama di Mahkamah Agung, dia menjadi suara yang cerdas bagi sayap liberal di pengadilan itu.

Ginsburg meyakini bahwa hambatan gender yang dihadapi perempuan di tempat kerja sekarang ini masih belum sirna di AS.

Yang tersisa, katanya, adalah sesuatu yang tak bisa dimandatkan pengadilan, yaitu bagi bangsa AS untuk terbuka akan gagasan bahwa perempuan dan laki-laki perlu keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.

Ginsburg menciptakan keseimbangan dalam kehidupan pribadinya sebagai ibu bekerja dengan dua anak, dengan cinta dan dukungan dari suaminya Martin, yang meninggal dunia pada 2010.

"Yang paling penting sejauh ini, adalah saya punya pasangan hidup, suami saya, yang beranggapan pekerjaan saya sama pentingnya dengan pekerjaannya, dan selalu ingin jadi bagian dari perkembangan anak-anaknya," kata Ginsburg.

Hakim Ruth Bader Ginsburg mengatakan dia selalu berusaha melakukan sesuatu yang diyakininya benar.

"Saya harap saya akan dikenang sebagai seseorang yang mencintai hukum, negaranya, kemanusiaan, menghargai martabat setiap orang, dan bekerja sekerasnya dengan apapun bakat yang dimiliki, untuk membuat dunia jadi sedikit lebih baik dibanding ketika saya masuki," katanya. (VOA)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini