-->
    |


Aktivis di Taiwan Protes Pemberangusan Media di Hong Kong

Penjabat redaktur kepala Stand News, Patrick Lam, saat ditahan polisi dengan tuduhan konspirasi, bersama enam orang lainnya, di Hong Kong, China, Rabu, 29 Desember 2021. (Foto: VOA)

Kapuasrayatoday.com -  Berkumpulnya massa di Taipei itu berlangsung sehari setelah polisi Hong Kong menyerang media berita pro-demokrasi Stand News.

Tujuh orang ditangkap, di antaranya dua redaktur, baik yang masih aktif maupun yang mantan, serta empat anggota dewan, termasuk seorang penyanyi terkenal, Denise Ho, dengan tuduhan penghasutan yang berasal dari pasal hukum era kolonial.

Sementara itu, Sang Pu, presiden Asosiasi Taiwan Hong Kong mengatakan, kebebasan setiap orang harus dilindungi.

“Kini Apple Daily sudah hilang, Stand News juga. Yang mana berikutnya? Hong Kong masih punya Hong Kong Citizen News, Radio Free Asia, dan mungkin Epoch Times yang bersedia menyelidiki kebenaran. Sebagaimana saya katakan, media independen tidak akan eksis lagi pada 1 Januari tahun depan pukul 00.00," ujar Sang Pu.

Langkah terbaru oleh penguasa Hong Kong itu merupakan kelanjutan dari penumpasan aksi pembangkangan di kota semi otonom itu.

Aktivis meneriakkan slogan yang bunyinya “melaporkan kebenaran bukan sebuah kejahatan.”

Sky Fung, anggota Hong Kong Outlanders, sebuah asosiasi pro Hong Kong di Taiwan mengatakan, penumpasan di Hong Kong berlangsung hari demi hari.

“Pertama, mereka menumpas kegiatan demokratis, kemudian mereka melarang kelompok sipil, kini mereka melarang media, besok mereka menekan pendidikan, dan sesudahnya, mereka merampas budaya dan rakyat Hong Kong. Namun, rakyat Hong Kong beruntung punya pendukung selama perjuangan ini. Di Taiwan, kami merasakan dukungan dari masyarakat," kata Sky Fung.

China pada Kamis (30/12) membela operasi polisi Hong Kong itu.

“Penangkapan oleh polisi Kawasan Administratif Khusus Hong Kong terhadap orang-orang yang dicurigai berkonspirasi untuk menerbitkan materi yang menghasut, serta pembekuan aset mereka yang sesuai hukum, merupakan tindakan yang diperlukan dan sah guna membela penegakan hukum dan menjaga ketertiban sosial di Hong Kong," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken menyerukan agar penguasa Hong Kong segera membebaskan para tahanan.(VOA)




Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini